Langkah Menkeu AS Topang Kepercayaan di Sistem Keuangan

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Steven Mnuchin mengadakan pembicaraan dengan enam kepala bank terbesar AS. Langkah itu dilakukan untuk menopang kepercayaan terhadap sistem keuangan AS di tengah gejolak pasar baru-baru ini.

“Semua bank melakukan konfirmasi mengenai likuiditas yang cukup tersedia untuk pinjaman ke pasar untuk konsumen dan bisnis,” kata pernyataan Departemen Keuangan AS, seperti dilansir dari CNBC, Selasa, 25 Desember 2018.

Mnuchin berbicara dengan CEO JP Morgan Chase Jamie Dimon, Brian Moynihan dari Bank of America, David Solomon dari Goldman Sachs, James Gorman dari Morgan Stanley, Tim Sloan dari Wells Fargo, dan Michael Corbat dari Citigroup.

“Kami terus melihat pertumbuhan ekonomi yang kuat di ekonomi AS dengan aktivitas yang kuat dari konsumen dan bisnis,” kata Mnuchin dalam pernyataannya. Adapun Mnuchin sedang berhadapan dengan beberapa masalah yang dihadapi investor dan sistem keuangan saat ini.

Adapun permasalahan itu seperti aksi jual di pasar saham yang mendorong Dow Jones Industrial Average pekan lalu ke penurunan terburuk dalam 10 tahun. S&P 500 juga hampir masuk ke area pelemahan yang cukup besar. Kondisi ini salah satunya juga dipicu oleh sengketa dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Selain itu, masalah lainnya adalah Presiden AS marah dengan keputusan ketua the Fed yang terus menaikkan suku bunga acuan di tengah penurunan ekuitas. Presiden Trump begitu frustrasi sehingga dia dilaporkan telah mendiskusikan pemecatan Jerome Powell dari Ketua the Fed . Sedangkan Mnuchin terus berusaha memadamkan badai itu.

Masalah lainnya adalah penutupan Pemerintahan AS. Kepala Staf Manajemen dan Anggaran Gedung Putih Mick Mulvaney meyakini penutupan sebagian lembaga Pemerintahan AS akan berlanjut hingga awal 2019. “Kemungkinan beberapa hal tidak akan bergerak cepat di sini selama beberapa hari ke depan,” kata Mulvaney.

Dia memprediksi penutupan pemerintahan sangat mungkin terjadi hingga melampaui 28 Desember dan hingga terlaksananya Kongres baru pada 3 Januari 2019. Mulvaney menjelaskan lamanya penutupan sebagai dampak dari ditolaknya proposal pengajuan dana Presiden AS Donald Trump untuk membangun tembok perbatasan.

2019, Pemotongan Produksi Berpeluang Perkuat Pasar Minyak

Penyedia informasi energi Argus Media mengungkapkan kelebihan pasokan minyak akan terus menekan harga hingga kuartal pertama 2019. Akan tetapi upaya pengurangan produksi dari produsen pada akhirnya bisa mendorong harga minyak mentah terus meningkat saat tahun berjalan.

“Artinya, pasokan dan permintaan harus menyeimbangkan kembali pada kuartal kedua tahun depan,” kata Azlin Ahmad, Editor Argus Media, seperti dikutip dari CNBC, Selasa, 25 Desember 2018.

Sejak naik ke level tertinggi empat tahun pada awal Oktober, harga minyak mentah berjangka telah terus jatuh lebih dari sepertiga. Gelombang terakhir penjualan besar terjadi pada saat pasar energi serta ekonomi global dicengkeram oleh berbagai faktor bearish atau pelemahan.

Minyak berjangka Brent, patokan internasional diperdagangkan di sekitar USD53,60 per barel pada Senin waktu setempat, mewakili penurunan hampir 20 persen pada 2018. Tetapi harga kemungkinan naik di tahun depan karena pemotongan pasokan oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Pemotongan dijadwalkan berlaku pada Januari.

Negara anggota OPEC dan produsen minyak non-OPEC termasuk Rusia sepakat pada awal Desember untuk mengekang produksi sebesar 1,2 juta barel per hari. Itu setara dengan lebih dari satu persen permintaan global, dalam upaya menguras tangki dan mendorong harga.

Organisasi yang beranggotakan 15 negara itu memang sebelumnya menyatakan akan mengurangi produksinya hingga 800 ribu barel per hari, sementara Rusia dan produsen non-OPEC yang bersekutu akan menyumbang pengurangan produksi harian sebanyak 400 ribu barel.

Argus memperkirakan minyak mentah Brent diperdagangkan sekitar USD65 per barel pada kuartal pertama di 2019, dan naik menjadi USD68 pada kuartal kedua dan mencapai USD70-an pada kuartal ketiga di tahun depan. Harga akan menembus USD80 per barel pada kuartal keempat 2019, Ahmad memproyeksikan.

“Harga minyak Brent rata-rata akan berada di bawah USD70 pada keseluruhan 2019,” menurut perkiraan Argus.

Trump Kembali Tekan The Fed

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengkritik Federal Reserve karena terus menaikkan suku bunga acuan. Ia menilai the Fed luar biasa karena sedang mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan lagi mengingat situasi dan kondisi perekonomian sekarang ini.

“Ini luar biasa bahwa dengan dolar yang sangat kuat dan hampir tidak ada inflasi, the Fed bahkan mempertimbangkan sekali lagi kenaikan suku bunga acuan,” kata Trump, dalam cuitannya, seperti dikutip dari Xinhua, Rabu, 19 Desember 2018.

Trump telah berulang kali memberikan tekanan pada the Fed untuk menunda kenaikan suku bunga dengan alasan kenaikan tersebut menghambat kemajuan ekonomi. “AS tidak seharusnya dihukum karena kami melakukannya dengan sangat baik. Pengetatan sekarang melukai semua yang telah kami lakukan,” kata Trump, dalam sebuah cuitannya di Juli lalu.

Bisa dibilang kritikan Trump kepada the Fed hampir dijauhi oleh semua pendahulunya dalam rangka memastikan kebijakan suku bunga acuan ditetapkan untuk yang terbaik bagi perekonomian Amerika Serikat. Kebijakan suku bunga dengan melihat tingkat inflasi, data tenaga kerja, dan lainnya IDN Poker.

The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya tiga kali di tahun ini. Bank sentral AS ini juga siap untuk menaikkan suku bunga acuan kembali pada pertemuan kebijakan berikutnya pada akhir pekan ini, menurut risalah pertemuan terakhir yang dirilis bulan lalu.

Ketua the Fed Jerome Powell mengatakan pada akhir November bahwa suku bunga acuan berada di bawah kisaran tingkat yang akan netral bagi perekonomian. Pelaku pasar menafsirkan hal itu sebagai sinyal dovish untuk kenaikan suku bunga acuan di masa depan, dibandingkan dengan komentar Powell sebelumnya pada awal Oktober bahwa suku bunga jauh dari netral.

Tetapi beberapa ekonom dan analis Wall Street mengatakan bahwa mereka tidak melihat perubahan besar dalam kebijakan pengetatan moneter Fed. Hampir semua dari 60 ekonom yang disurvei oleh The Wall Street Journal awal bulan ini memperkirakan the Fed akan menaikkan suku bunga acuan lagi pada minggu ini.